Tagged: perang suku Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Papua Post 2:18 am on June 4, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , perang suku   

    Timika Terus Mencekam 

    Timika [PAPOS]- Aparat kepolisian di Timika, Rabu malam terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan sekelompok massa yang memblokir Jalan Pattimura Sempan terkait pertikaian antar kelompok di wilayah itu.

    Aksi pemblokiran Jalan Pattimura Sempan Timika dilakukan sekitar puluhan warga salah satu kelompok. Mereka membakar ban bekas dan kayu di jalan itu.

    Beberapa warga Jalan Pattimura Sempan Timika mengaku khawatir keselamatan diri dan keluarga mereka lantaran ada isu ada kelompok massa yang lain yang akan menyerang ke wilayah itu pada Rabu malam atau Kamis (27/5) dini hari.

    "Menurut isu yang berkembang sebentar menjelang pagi mereka mau datang serang," tutur salah seorang pemuda.

    Pada Rabu malam sekitar pukul 21.40 WIT, aparat kepolisian dari Polsek Mimika Baru dibantu satu peleton Brimob Detazemen B Polda Papua datang ke Jalan Pattimura Sempan untuk membubarkan massa. Aparat kepolisian bahkan mengeluarkan tembakan peringatan ke udara beberapa kali agar massa membubarkan diri.

    Sekitar pukul 22.00 WIT, blokir jalan akhirnya dibuka dan aparat kepolisian masih berjaga-jaga di sekitar Jalan Pattimura Timika untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi bentrok lanjutan antarkelompok warga setempat.

    Panik

    Sebelum polisi mengeluarkan tembakan peringatan, warga di sekitar Jalan Pattimura, Jalan Bu Siri, dan Jalan Sam Ratulangi Sempan Timika panik setelah mendengar bunyi tiang listrik yang dipukul warga sebagai pertanda adanya bahaya.

    Warga berhamburan ke luar rumah, sebagian ibu-ibu berteriak histeris karena mengkhawatirkan keselamatan keluarga mereka.

    Bahkan sejumlah anggota paduan suara yang sedang mengikuti kegiatan ibadah di Gereja Katolik St Stefanus Sempan juga panik dan berhamburan ke luar gedung gereja.

    Kepanikan warga semakin menjadi-jadi taatkala mendengar bunyi letupan senjata api yang ditembakan oleh aparat.

    Hingga Rabu malam, situasi kamtibmas di kota Timika masih relatif aman, kendati sebagian warga masih khawatir akan adanya serangan mendadak oleh kelompok massa yang lain.

    Situasi kamtibmas di Timika sejak Senin (24/5) lalu cukup tegang menyusul tewasnya Lambert Ondos Rumte, warga salah satu kelompok massa yang dianiaya oleh sekelompok orang di Jalan Sosial, depan Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Mimika pada Minggu (23/5) malam.

    Insiden itu memicu terjadinya pembacokan terhadap tiga warga lain yang tidak tahu-menahu dengan peristiwa tersebut, bahkan dua rumah warga setempat juga ikut dibakar.

    Polres Mimika telah berupaya mempertemukan tokoh masyarakat dari kelompok yang bertikai untuk segera mencari solusi terbaik mengatasi masalah tersebut.

    Tidak itu saja, pada Selasa (25/5), polisi menggelar razia senjata tajam dari warga Jalan Sosial Kompleks Kebun Sirih Timika. [ant/wanda]

    Ditulis oleh Ant/Wanda/Papos      
    Sabtu, 29 Mei 2010 00:00

    Iklan
     
    • Frans Tomoki 6:37 am on Juni 10, 2010 Permalink | Balas

      Polisi harus tindak terhadap orang yang menjadi profokator dengan menyebarkan isu yang tidak benar karena hal itu akan mengundang konflik antar warga, warga pun harus melaporkan siapa otaknya yang menyebarkan isu bahkan mengajak peran dengan suku lain ataupun kampung lain

  • Papua Post 1:46 am on June 4, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , perang suku   

    Warga Kei dan Dani Timika Berdamai 

    Tmika [PAPOS]- Warga Suku Kei dan Dani di Timika, yang lama terlibat perselisihan hingga bentrok beberapa kali, Rabu [2/6] sepakat berdamai dengan penuh kekeluargaan.

    Kesepakatan damai dicapai di Polsek Mimika Baru dan disaksikan Waka Polres Mimika Kompol Erick Kadir Sully, Kepala Distrik Mimika Baru James Noldy Sumigar, Komandan Koramil Kota Timika Kapten Inf Agus Roswandi, Kapolsek Mimika Baru AKP Lang Gia dan para tokoh masyarakat dari dua kelompok.

    Dalam kesepakatan itu dituangkan lima poin pernyataan yang berisikan permintaan maaf kedua kelompok atas perbuatan yang warga mereka, menyelesaikan masalah secara adat sesuai amanat UU No 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) Papua, sedangkan menyangkut tindakan kriminal diselesaikan secara hukum.

    Kedua belah pihak juga sepakat jika di kemudian hari ada oknum warga yang masih melakukan pelanggaran hukum maka akan diproses sesuai ketentuan hukum.

    Sebagai bentuk ungkapan permintaan maaf dari kedua belah pihak, warga Dani menyerahkan uang tunai Rp30 juta dan lima noken (tas orang Papua) sebagai denda adat kepada isteri almarhum Lamber Ondos Rumte.

    Sedangkan warga Kei menyerahkan selembar kain kebaya adat sebagai pertanda "pembungkus malu" atas aib yang telah diperbuat warganya.

    Waka Polres Mimika, Erick Kadir Sully dalam arahannya mengatakan polisi mengedepankan penyelesaian secara kekeluargaan tanpa mengabaikan penegakan hukum positif mengingat UU Otsus Papua mengamanatkan penyelesaian masalah adat sesuai hukum adat yang berlaku di Papua.

    Ia meminta warga agar menyerahkan penanganan kasus kriminal kepada polisi, dan bukannya bertindak "main hakim" sendiri.

    "Saya mengimbau semua tokoh masyarakat di Timika agar memberikan pengertian kepada warganya jika terjadi hal-hal seperti ini," kata Sully.

    Sedangkan Kapolsek Mimika Baru Lang Gia meminta pihak-pihak yang bertikai melepaskan dendam dan permusuhan serta polisi tetap mengusut tuntas kasus-kasus pembacokan warga dan pembakaran rumah warga.

    Para tokoh masyarakat Kei yang hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya Jack Renwarin, Bernadinus Songbes dan dari kelompok Dani hadir John Wamu Haluk serta Yompis Tabuni.[ant/agi]

    Ditulis oleh Ant/Agi
    Kamis, 03 Juni 2010 02:39

     
  • Papua Post 2:28 am on May 29, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , perang suku   

    Timika Terus Mencekam 

    Timika [PAPOS]- Aparat kepolisian di Timika, Rabu malam terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan sekelompok massa yang memblokir Jalan Pattimura Sempan terkait pertikaian antar kelompok di wilayah itu.

    Aksi pemblokiran Jalan Pattimura Sempan Timika dilakukan sekitar puluhan warga salah satu kelompok. Mereka membakar ban bekas dan kayu di jalan itu.

    Beberapa warga Jalan Pattimura Sempan Timika mengaku khawatir keselamatan diri dan keluarga mereka lantaran ada isu ada kelompok massa yang lain yang akan menyerang ke wilayah itu pada Rabu malam atau Kamis (27/5) dini hari.

    "Menurut isu yang berkembang sebentar menjelang pagi mereka mau datang serang," tutur salah seorang pemuda.

    Pada Rabu malam sekitar pukul 21.40 WIT, aparat kepolisian dari Polsek Mimika Baru dibantu satu peleton Brimob Detazemen B Polda Papua datang ke Jalan Pattimura Sempan untuk membubarkan massa. Aparat kepolisian bahkan mengeluarkan tembakan peringatan ke udara beberapa kali agar massa membubarkan diri.

    Sekitar pukul 22.00 WIT, blokir jalan akhirnya dibuka dan aparat kepolisian masih berjaga-jaga di sekitar Jalan Pattimura Timika untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi bentrok lanjutan antarkelompok warga setempat.

    Panik

    Sebelum polisi mengeluarkan tembakan peringatan, warga di sekitar Jalan Pattimura, Jalan Bu Siri, dan Jalan Sam Ratulangi Sempan Timika panik setelah mendengar bunyi tiang listrik yang dipukul warga sebagai pertanda adanya bahaya.

    Warga berhamburan ke luar rumah, sebagian ibu-ibu berteriak histeris karena mengkhawatirkan keselamatan keluarga mereka.

    Bahkan sejumlah anggota paduan suara yang sedang mengikuti kegiatan ibadah di Gereja Katolik St Stefanus Sempan juga panik dan berhamburan ke luar gedung gereja.

    Kepanikan warga semakin menjadi-jadi taatkala mendengar bunyi letupan senjata api yang ditembakan oleh aparat.

    Hingga Rabu malam, situasi kamtibmas di kota Timika masih relatif aman, kendati sebagian warga masih khawatir akan adanya serangan mendadak oleh kelompok massa yang lain.

    Situasi kamtibmas di Timika sejak Senin (24/5) lalu cukup tegang menyusul tewasnya Lambert Ondos Rumte, warga salah satu kelompok massa yang dianiaya oleh sekelompok orang di Jalan Sosial, depan Kantor Dinas Peternakan Kabupaten Mimika pada Minggu (23/5) malam.

    Insiden itu memicu terjadinya pembacokan terhadap tiga warga lain yang tidak tahu-menahu dengan peristiwa tersebut, bahkan dua rumah warga setempat juga ikut dibakar.

    Polres Mimika telah berupaya mempertemukan tokoh masyarakat dari kelompok yang bertikai untuk segera mencari solusi terbaik mengatasi masalah tersebut.

    Tidak itu saja, pada Selasa (25/5), polisi menggelar razia senjata tajam dari warga Jalan Sosial Kompleks Kebun Sirih Timika. [ant/wanda]

    Ditulis oleh Ant/Wanda/Papos      
    Sabtu, 29 Mei 2010 00:00

     
  • Papua Post 2:19 pm on May 6, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , perang suku, Timika   

    Pengadilan Adat Selesaikan Bentrok Warga 

    Liputan 6 – Selasa, 4 Mei

    Liputan6.com, Timika: Pertikaian antara warga Mambruk dan Tunikama di Kelurahan Harapan Kwamki Lama, masih berlanjut hingga Senin (3/5). Guna menghindari dua kelompok warga saling serang, Kepolisian Resor Mimika, Papua, mencoba membuat mekanisme peradilan adat dengan mempertemukan kelompok bertikai untuk menyelesaikan masalah.

    Peradilan adat ini, baru pertama kali dilaksanakan di kepolisian setempat. Diharapkan, pendekatan ini akan meminimalkan atau meredam pertikaian yang melibatkan orang banyak.

    Dengan alasan jumlah korban belum seimbang, warga Mambruk masih ngotot menyerang warga Tunikama. Sementara, warga Tunikama akan meladeni jika diserang. Untuk itu, polisi terus berjaga-jaga mengantisipasi kedua kelompok saling serang.(IDS/ANS)

     
  • Papua Post 4:00 am on May 4, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , keamanan, perang suku, security   

    Polisi Terus Cari Solusi Kwamki Lama 

    TIMIKA [PAPOS] – Kepolisian Mimika saat ini terus berupaya untuk mencari jalan keluar penyelesaian konflik berkepanjangan antar dua kelompok warga di Kwamki Lama Timika.

    Hal itu dikatakan Kepala Kepolisian Resort Mimika AKBP. Moch Sagi saat ditemui Papua Pos di Lapangan Timika Indah seusai mengikuti Upacara Bendera Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Senin [3/5]. Kata dia, salah satu upaya yang dilakukan adalah terus mempertemukan kedua pihak yang saling bertikai untuk mencari jalan keluar. Selain itu, pertemuan ini juga dimaksudkan agar warga kedua kubu tidak terus menerus memikirkan untuk bertikai ”Kita akan mempertemukan mereka terus sehingga dapat mencari jalan keluar permasalahan yang diinginkan kedua pihak,” ujarnya.

    Lanjut Kapolres, polisi sedang mencari akar permasalahan untuk penyelesaian konflik dengan melakukan pendekatan hukum positif, namun masyarakat juga memaksa agar polisi dapat mengakomodir penyelesaian secara adat bukan hanya dengan hukum positif”Kalo masalah dapat diselesaikan dengan cara hukum positif dan adat, kita akan lakukan dua-duanya,” ujarnya.

    Kata dia, Polisi dalam kasus ini hanya sebagai mediator dengan menampung semua aspirasi kedua pihak guna mencari solusi permasalahan yang dikehendaki dua pihak. Yang pasti keamanan di kwamki lama harus terus terjaga, jangan sampai ada lagi pertikaian karena akan terus menimbulkan jatuhnya korban yang berdampak pada semakin meluasnya masalah. ‘’Kami tidak ingin pertikaian terjadi lagi, kami sudah minta agar dua pihak meletakan panah sambil terus melakukan razia bagi warga yang membangkang,” tegas Kapolres.

    Dia juga meminta agar penyelesaian masalah Kwamki Lama bukan hanya menjadi tanggungjawab polisi tapi semua stakeholder karena polisi tidak dapat bekerja sendiri. Menurutnya, situasi kamtibmas dua hari ini berangsur-angsur aman, namun kedua pihak masih terus saling jaga karena belum ada kata sepakat untuk menyelesaikan masalah. ‘’Polisi masih terus disiagakan di Kwamki Lama sampai kondisi benar-benar aman,” kata Kapolres. [cr-56]

     

    Ditulis oleh Cr-56/Papos   
    Selasa, 04 Mei 2010 00:00

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal