Imparsial Desak SBY Selesaikan Masalah Papua

Minggu, 23 Oktober 2011 17:28

JAYAPURA – Imparsial mengecam insiden penembakan saat Kongres Papua III yang digelar di Lapangan Zakeus, Padang Bulan, Abepura, Jayapura, Rabu 19 Oktober 2011. SBY diminta untuk menyelesaikan masalah Papua dengan segera.

”Jatuhnya korban jiwa dan luka-luka ini seharusnya dapat dihindari. Hal ini makin menambah buruk situasi di Papua dan tentu saja bertentangan dengan janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diucapkan pada pidato kenegaraan menyambut peringatan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu, yang menyatakan akan membangun Papua dengan hati,” kata Poengky Indarti, Direktur Eksekutif Imparsial, dalam surat eletronik, Ahad (23/10). Ia mengatakan, penanganan masalah Papua harus dilakukan dengan hati-hati oleh Pemerintah. Penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh aparat keamanan, termasuk dugaan makar yang dilakukan oleh penyelenggara kongres sekalipun, tidak dapat dibenarkan. “Pengerahan aparat keamanan yang berlebihan dan tanpa koordinasi yang baik justru semakin meningkatkan rasa tidak aman bagi rakyat Papua,” ujarnya.

Imparsial mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membuktikan janjinya segera menyelesaikan masalah Papua. “Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Presiden untuk segera menyelesaikan permasalahan di Papua dengan hati melalui komunikasi yang konstruktif dengan Rakyat Papua,” ucapnya.

Berlarut-larutnya kekerasan tidak hanya akan semakin menghilangkan kepercayaan rakyat Papua kepada Indonesia, melainkan juga dapat meruntuhkan kepercayaan bangsa dan dunia internasional terhadap sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai orang yang selama ini dikenal demokratis dan menghormati HAM. “Imparsial mendesak semua pihak untuk bersama-sama menjaga perdamaian di Papua dengan mengedepankan penghormatan kepada hukum dan HAM,” kata Poengky.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Papua menyatakan, korban tewas akibat ricuh Kongres Papua, sebanyak enam orang.

Para korban meninggal versi Komnas HAM yakni James Gobay (25), Yosaphat Yogi (28), Daniel Kadepa (25), Maxsasa Yewi (35), Yakob Samonsabra (53) dan Pilatus Wetipo (40). Sementara Untuk korban luka, Ana Adi (40), Miler Hubi (22), dan Matias Maidepa (25). “Ada enam orang dari data kami yang terbaru, kami mendapat ini dari sumber terpercaya,” kata Matius Murib, Wakil Ketua Komnas HAM Papua.

Dua korban pertama, Daniel Kadepa dan Maxsasa Yewi, ditemukan Kamis siang 20 Oktober 2011 di perbukitan belakang Korem 172 PWY, Padang Bulan, Abepura, Kota Jayapura. Di tubuh korban terdapat luka bacok dan tusukan senjata tajam. Pada hari yang sama, juga didapati korban lain yang diidentifikasi bernama Yacob Samonsabra.

Kongres Papua III mendeklarasikan Negara Federasi Papua Barat. Mata uangnya Golden, lagu kebangsaan, Hai Tanahku Papua, Bendera Bintang Kejora, Lambang Negara Burung Mambruk, Bahasa Vigin dan pemerintahan daerah dipimpin seorang gubernur. Kongres mengangkat Forkorus Yaboisembut, Ketua Dewan Adat Papua sebagai Presiden dan Edison Waromi, Perdana Menteri.

Baik Forkorus maupun Waromi kini tengah menjalani pemeriksaan setelah ditetapkan sebagai tersangka melakukan makar. Keduanya melanggar Pasal 110, 106, dan 160 KUHP tentang Makar.

Tersangka lain yang dijerat tuduhan makar yakni August Makbrawen Sananay Kraar, Selpius Bobi, Ketua Panitia Kongres dan Dominikus Sirabut, aktivis HAM Papua. Sementara seorang lainnya, Gat Wenda, dijerat Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 karena terbukti membawa senjata tajam. (jer/don/l03)