OTSUS PAPUA SUDAH LAMA JADI ALMARHUM – STOP PEMILIHAN ANGGOTA MRP PAKET II, JAWAB 11 REKOMENDASI HAS

Jayapura; Rabu, 26 Januari 2011, di bawah komando para ketuga gereja-gereja se-Tanah Papua mengadakan aksi demo damai. Demo kali ini untuk menuntut tanggapan pemerintah pusat atas 11 poin rekomendasi yang dihasilkan dalam “musyawarah besar” dari MRP bersama masyarakat asli Papua melalui DPRP pada 18 Agustus 2010 lalu.

Masa berkumpul di empat titik, yakni; di pendopo – Sentani, perumnas Tiga – Waena, terminal Expo dan Lingkaran depan kantor Pos. Pada pukul 09.36 waktu Papua, masa yang berkumpul di perumnas Tiga Waena dengan membawa dua peti mayat yang di atas bertulis “Almarhum OTSUS dan MRP” mulai long mach. Dalam perjalanan masa berorasi bahwa “MRP” ada di Papua hanya untuk menyiksa masyakat Papua, bukan untuk memberikan kesejahteraan dan dengan yel-yel “kamu bukan Indonesia, melaikan kami Papua, tapi baru-baru engkau bilang Indonesia”. Tepatnya, di depan sipur Waena, masa yang dari Sentani dan Expo langsung turun dari tiga buah truk yang mereka tumpangi.

Bersama masa yang dari tadi pagi berkumpul di lingkaran depan kantor pos, melanjutkan long mach ke kantor MRP. Di kantor MRP, para ketua sinode dan pendeta menyiapkan upacara perkabungan di kantor MRP, maka ketika masa dari Lingkaran tiba di kantor MRP, para pendeta ini melangsungkan upacara perkabungan (matinya) OTSUS dan MRP dari tanah Papua dengan menyancapkan Salib di pintu kantor MRP pertanda bahwa MRP sudah tidak ada lagi di tanah Papua (sudah menjadi almarhum) jadi tidak perlu lagi menngadakan pemilihan anggota MRP baru untuk paket ke II di Papua. Ironisnya, salib yang ditancapkan di pintu masuk kantor MRP dengan ritual keagamaan Kristen itu, setelah masa meningalkan kantor MRP menuju ke kantor DPRP, polisi datang mencopot keluar dari pintu dan membawa pergi ke kantor polisi. Ini lakukan polisi mau jadikan barang bukti jika salah satu pendeta atau pengerak aksi kali ini ditangkap dan disidangkannya.

Tepat pukul 13.00 waktu Papua, setelah doa yang dipimpin oleh seorang pendeta asal Paniai, masa meningalkan kantor MRP melanjutkan long mach di bawa teriknya matahari yang sangat menusuk. Panas bukanlah menjadi halangan, karena sepanjang perjalanan masa disemangati dengan lagu-lagu rohani yang dipasang di dua truk komando depan belakang dan dengan orasi-orasi yang bersifat memberi semangat para masa pelang, namun pasti tiba dengan selamat di kantor DPRP Papua pada pukul 15.12 waktu Papua

Para ketua sinode dan pendeta yang adalah penanggungjawab dan pengerah aksi kali ini, mengambil tempat di depan – depan pintu masuk kantor DPRP. Selang berapa menit, anggota Dewan terhormat keluar dari kantor mengambil tempat di depan para para pendeta. Mewakili masa yang mendatangi kantor Dewan, mempertanyakan 11 rekomendasi hasil “MUBES” Majilis Rakyat Papua lalu yang pernah sampaikan kepada pemerintah pusat melalui Dewan Perwakilan Rakyat Papua tersebut. “Sampai sejauh mana perjuangan DPRP atas 11 poin rekomendasi itu….? Atas pertanyaan tersebut, “kami sudah sampaikan kepada pemerintah pusat, namun sampai saat ini tidak ada jawaban dari pemerintah pusat kepada kami” jawab Yunus Wonda, wakil ketua satu DPRP. Setelah mendengan jawaban tersebut, para pendeta mewakili rakyat Papua langsung membacakan Deklarasi Tegologis di depan masa dan anggota dewan yang datang menemui masa aksi, isi deklarasinya:

DEKLARASI TEOLOGIA GEREJA-GEREJA PAPUA

TETANG GAGALNYA PEMERINTAH INDONESIA MEMERINTAH DAN

MEMBAGUN ORANG ASLI PAPUA

“perahu kehidupan kami sedang dipukul badai dan tengelan”

Pada hari ini,kami,26 januari 2011,kami pemimpin gereja-gereja di Tanah Papua bersama umat Kristen berkumpul untuk mendeklarasikan sikap dan posisi gereja gereja berkenaan dengan perkembangan pemerintahan dan kebijakan pembangunan diTanah papua,sejak berintegrasi dalam Negara Indonesia,teramat khusus sejak diberlakukannya Undang-Undang No.21/2001 tentang otonomi khusus di Tanah papua

Gereja-gereja sangat prihatin dengan kondisi hidup umat tuhan,teristimewa orang asli papua pemilik negeri tanah iniyang semakin tidak menentu ditegu berbagai kebijakan pembagunan yang dilakukan pemerintah Indonesia diatas tanah papua.pembangunan yang diadakan lebih berorinentasi pada kemajuan dan kepentingan Indonesia ditanah papua.

Pemberlakuan otonomi khusus papua yang berlangsun ‘tidak konsisten dan konsekwen’ merupakan bukti kuat dari ketindak sungguhan pemerintah Indonesia,sehingga rakyat papua menilai OTSUS telah GAGAL.maka,MRP sebagai lembaga amanat OTSUS yang pemilihannyaterkesan dipaksakan dan tergesa-gesa saat ini dan sikap pemerintah yang tidak memperhatikan 11 rekomendasi hasil musyawara MRP,kami nilai sebagai wujud penghinaan terhadaprakyat papua,umat ciptaan Tuhan Allah yang hakiki.Gereja-Gereja juga mempertanyakan surat menteri dalam negeri No.188.341/110/sj tentang klarifikasi peraturan daera khusus provinsi papua Tertangal 13 januari 2011 yang semakin meniadakan keberadaan orang asli papua diatas tanah airnya sendiri.

Untuk itu,perkembangan di atas merupakan kairos, suatu momentum bagi gereja-gereja untuk menyatakan pandanganya dalam bentuk deklarasi Theologis dibawah ini:

1. Pertama,gereja-gereja semakin diyakinkan bahwa proses-proses ini mengulangi bentuk yang sama dari proses integrasi papua yang bermasalah hukum dan demokrasi bagi rakyat papua.sejak diintegrasikan papua dalam Indonesia,papua telah menjadi wilayah bermasalah dalam kekuasaan pemerintahan Indonesia

2. Kedua, bangsa papua telah menjalani suatu ‘sejarah sunyi’ yang mengarah kepada genosida.wacana genosida telah lama disuarakan oleh berbagai pihak yang bentuk perihatian dengan keberlansungan hidup bangsa papua.mungkin genosida menurut rumusan PBB dan Indonesia atau Negara bangsa lainya tidak memenuhi rumusan-rumusan tersebut .tetapi genosida dari sudut pandang umat kami sebagai korban memang sedang terjadi melalui pengkondisian yang dilakukan oleh Jakarta berwujud ideology dan kebijakan pembangunan yang tidak berpihak kepada orang papua.kebijakan transmigrasi maupun operasi militer yang tiada berujun , merupakan siasat perkondisian agar lama-kelamaan papua punah.orang papua telah diposisikan sebagai “yang lain”yang harus diawasih,dikendalikan dan dibina,bukan sebagai warga Negara Indonesia yang setara.kalangan pengamat Jakarta menyebut perlakuan demikian sebagai penjajaan internal (internal colonialism) dan perbudakan terselubung terhadap papua.

3. Ketiga,kami,gereja papua mengakui dosa kami karenaang telah lama membisu terhadap Unsur-Unsur domenic (jahat) dan destruktip dari pembangunan terhadap Orang Asli Papua yang menurut pengamat Jakarta adalah merupakan bentuk penjajahan internal dan perbudakan terselubung.sehingga gereja papua telah keliru mengartikulasikan isi Firman Tuhan.”pemerintah adalah wakil Allah didunia yang harus dijunjung tinggi”membuat gereja lumpuh dan tidak dapat memainkan perang kenabiannya.

4. Keempat, menjawab pertanyaan yang sedang di hadapi umat Tuhan di Tanah Papua , kami Gereja – Gereja bertekad kembali ke akarnya, kembali ke habitatnya, yakni, Alkitab dan Sejarah Gereja. Kami bertekad melihat sejarah umat yang menderita sebagai tanda – tanda jaman ( Matius 16 : 3b ) dan tantangan teologis dan misiologis. Ini berarti Tuhan telah mengirim Gereja – gereja di Papuan ketengah umat yang sedang menjalani di Papuan ketengah umat yang sedang menjalani itu. Dengan demikian, Gereja – Gereja Papua harus senantiasa bertanya dan berdialog dengan Tuhan, Apa yang engkau pikir tentang perilaku penyelenggara Negara ini yang melakukan perbudakan terselubung terhadap umat kami ? Apakah engkau setuju dengan bertepuk tangan ?”

5. Kelima,konsekwensinya, sikap Gereja – Gereja di Papua selama ini dalam menyuarakan luka batin untuk Tuhan di Tanah Papua adalah merupakan bagian integrasi dari panggilan sejati Gereja dalam wartakan Firman Tuhan Allah yang mengutus kami. Alkitab dan Sejarah Gereja adalah pijakan kami dalam bertindak. Dalam misi ini, Gereja bertugas Menggembalakan Umat Allah, menjaga gambar dan rupa Allah agar tidak boleh diperlakukan dengan sewenang – wenang ( Yoh. 10 : 11 ; 21 : 12, 16, 19 ) sebagai Gembala, kami patut mendengarkan suaru domba – domba ( Jemaat ) kami; dalam semangat inilah kami mengangkat suaru kami karena “ perahu kehidupan kami sedang tenggelam” lilin kehidupan umat kami sedang dipadamkan atas nama pembangunan, integritas, territorial, demi keutuhan Negara.

6. Keenam terkait kebijakan pembangunan dan penyelenggaraaan pemerintahan terkini, dengan ini kami menyatakan:

a. Bahwa pemerintah Indonesia telah GAGAL membangun Orang Asli Papua bertolak dari Otonomi Khusus. Oleh karena itu, kami seruhkan agar pemerinyah segerah menghentikan seluruh proses pemilihan MRP jilid kedua yang sedang berlangsung dan menjawab 11 rekomendasi musyawadrah MRP;

b. Sebagai solusinya, kami kami menyeruhkan kepada pemerintah Indonesia untuk membuka diri untuk berdialog dengan Rakyat Asli Papua yang dimensi pihak ketiga yang netral.

c. Kami juga prihatin dengan prilaku pejabat asli papua yang tidak berpihak terhadap hak – hak rakyatnya sendiri.

7. Ketuju kami menghimbau Umat Tuhan di Tanah Papua untuk bangkit, kerjakan keselamatan nyatakan kebenaranmu di hadapan penguasa Negara yang lalim, yang sedang melakukan penjajahan internal ( internal colonialism ), pembasmian etnis ( genocida ) dan perbudakan terselubung ( disguised slavery ) atas Bangsamu.

8. Kedelapan kepada saudara saudari Umat Tuhan di Tanah Papua, di Indonesia dan dimana saja, berdoalah bagi kami dalam solidaritas, agar kami menjadi teguh didalam menghadapi tantangan jaman papua masa kini yang penuh dengan penderitaan dan air mata.

Demikian Deklarasi Kami

Hormat kami

Pimpinan – Pimpinan Gereja di Tanah Papua

Pdt. Drs. Elly D. Doirebo, M.si

Wakil ketua BP-AM Sinode GKI di Tanah Papua

Pdt. Dr. Benny Giyai

Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua

Pdt.Socratez Sofyan Yoman. MA

Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja – gereja Baptis Papua

Prosesi aksi diakhiri dengan penerahan pembacaan deklarasi oleh Pdt. Drs D. Doirebo, M.si, didampingi oleh Pdt. Socratez Sofyan Yoman dan Pdt. Dr. Benny Giyai. Setelah itu penyerahan peti mayat sebuah salib simbol matinya OTSUS di Papua kepada anggota Dewan terhormat yang hadir. Di tutup dengan doa dan lagi, lalu masa membuarkan diri dengan tertip setelah makan bersama yang dihidangkan oleh ibu-ibu.

By, Yuven.