Masyarakat Wadangku Minta Dialog Segitiga

Untuk Penyelesaian Batas Wilayah

WAMENA-Masyarakat Wadangku yang terletak di antara Kabupaten Jayawijaya dengan Kabupaten Yalimo meminta dialog segitiga dengan pemerintah daerah Kabupaten Jayawijaya dan Pemkab Yalimo.

Menurut koordinator mediasi dialog Ongkama Walela SST Par, dialog segitiga tersebut dimaksudkan untuk membicarakan masalah batas wilayah, karena secara keabsahan hukum status Kampung Wadangku masuk Distrik Abenaho Kabupaten Yalimo.

“Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 65 Tahun 1996 dan SK Nomor 65 pasal 17 menjelaskan bahwa kecamatan atau Distrik Abenaho meliputi desa Abenahi, desa Wambalafak, desa Landikma dan desa Wadangku,”jelas Ongkama kepada wartawan di Wamena, Selasa (24/8).

Dengan kondisi ini kata dia, maka masyarakat di kampung Wadangku terpecah, karena ada yang pro Yalimo dan pro Jayawijaya. “Sekarang ini ada 2 kubu yaitu pro Yalimo dan pro Jayawijaya, jika ini terus dibiarkan dapat menimbulkan konflik di masyarakat,”ujarnya.

Karena itu kata Ongkama, demi menjaga keamanan dan mencegah terjadi konflik, dirinya mewakili masyarakat meminta kepada kedua pemerintah yaitu Yalimo dan Jayawijaya untuk duduk bersama dengan masyarakat guna mencari solusinya.

“Harus ada dialog dan duduk bersama, yaitu pemerintah, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh intelektual, tokoh gereja dan unsure masyarakat lainnya,”pintanya.

Ditempat terpisah salah seorang kepala suku Heri Logo mengatakan, status kampung Wadangku ini bukanlah hal yang baru, melainkan sudah beberapa tahun yang lalu. “Saya sebagai penjaga pintu tahu persis, karena batas gapura antara Distrik Abenaho dan Distrik Kurulu pernah dibangun di depan rumah saya, dimana pada tahun 1996 itu saya juga menandatangani untuk masuk wilayah Distrik Abenaho, karena itu kami minta kedua pemerintah daerah yaitu Yalimo dan Jayawijaya turun ke lapangan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini,”harapnya. (lmn/nan) (scorpions)