Pengusaha Asli Papua Protes

SENTANI [PAPOS] -Kurang Lebih 100 orang pengusaha asli Papua di Kabupaten Jayapura, mengemis mencari proyek pengadaan barang dan jasa yang berada di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura, karena sejumlah proyek yang nilainya miliaran rupiah sudah dipegang oleh pengusaha besar yang punya duit banyak.  

“Ini suatu kebiasan yang suda berlansung turun temurun sehingga pengusaha Papua diterlantarkan di atas tanahnya sendiri,”kata Ketua Badan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Jasa Konstruksi (Gapensi) Kabupaten Jayapura Obaja Ondi SE kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (5/5) kemarin. Menurud Dia, kondisi pengusaha asli Kabupaten Jayapura sangat memprihatinkan, karena mereka harus mengemis ke kantor-kantor pemerintah untuk mendapatkan proyek. Bahkan, terkesan pimpinan SKPD menutupi proyek-proyek dari pengusaha Papua, sehingga hampir sebagian besar pengusaha asli Kabupaten Jayapura menggantung di asosiasi seperti Gapensi. “Memang Gapensi wadah yang bermitra dengan pemerintah, tetapi kemitraan seperti apa yang dibangun, karena tahun ini tidak ada tanda-tanda kemitraan itu,”jelasnya.

Padahal menurutnya, secara administrasi Gapensi sudah menyurat secara resmi agar mendapatkan bagian yang jelas dari proyek-proyek pemerintah, namun tidak terjadi berdampak banyak pengusaha Papua yang terlantar. Kata Obaja, Kabupaten Jayapura melalui kepemimpinan Bupati Habel Melkias Suwae telah dikenal sebagai Bapak pemberdayaan, tetapi pemberdayaan itu hanya focus untuk kampung dari kacamata Gapensi. Realitanya lanjut dia, pengusaha Papua tidak diberdayakan malahan menjadi anak tiri, sedangkan pengusaha berduit terus diakomodir dan dibesarkan.

“Kami yang berada di asosiasi ini berpikir kabupaten ini kabupaten Pemberdayaan, jadi nanti pengusaha asli Papua juga diberdayakan nyatanya pengusaha banyak duit yang diberdayakan,”ujarnya dengan nada sinis. Hal yang paling mengelisahkan adalah proses tender yang diatur dalam Kepres 80 Tahun 1989 tentang Pengadaan Barang dan Jasa tidak pernah dilakukan. Mestinya ada kebijakan khusus kepada pengusaha orang asli Papua, justru dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di Gunung Merah menunjuk para pengusaha yang memiliki modal besar. “Praktek uang beli proyek sudah terjadi,”kata Obaja. Praktek-praktek semacam itu lanjut Obaja, sangat merisaukan pengusaha-pengusaha asli di Kabupaten Jayapura, bahkan mereka merasa terancam gulung tikar. ”Pemerintah Kabupaten Jayapura tidak sangguh-sungguh membina pengusaha asli Papua,”ujarnya dengan dana kecewa.[nabas]

Ditulis oleh Nabas/Papos
Kamis, 06 Mei 2010 00:00