Pemekaran Propinsi Papua Selatan, Tujuan Strategis Pemusnaan Bangsa Papua RAS Malanesia

Oleh : Maro-Net
Maro-Net-Perjuangan Propinsi Papua Selatan merupakan bentuk-bentuk dari ketidak puasan sekelompok orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai kelompok elit Papua selatan yang bermukim diwilayah kabupaten maupun yang bergentanyangan di propinsi papua, terus bermain sesuai kepentingan kelompok mereka yang mengingkin porsi di tempat paling atas yakni di dalam birokrasi pemerintahan neokolonialisme Indonesia yang berdiri diatas negara Papua Barat,mereka hanya bisa membuat masyarakat papua akar rumput jadi kebingungan,tapi ternyata jika dilihat adalah mereka saling mendukung satu sama lain sebagai sahabat sekandung,sahabat kandung masih kalah di banding keakraban mereka. Jika di lihat, mereka sedang berlomba-lomba mengisi rakyat papua pada umumnya dan secara khusus rakyat papua selatan dalam peti mati pemekaran.
Tidak lupa juga mereka sedang gali kuburan baru bagi rakyat kami, mereka sangat rakus akan harta dari manusia yang punya hasil kekayaan,ketidak peduliaan mereka semakin nyata di hadapan rakyat papua, secara khusus rakyat papua selatan, mereka rakus akan hasil kekayaan kami,mereka rakus akan tanah kami,mereka jahat,jijik,sungguh sangat menkutkan ketika bertatapan wajah dengan mereka,jelas terlihat wajah mereka berkaca-kaca dan bersinar-sinar kerakusan yang ingin menerkam kami,mereka adalah sebagian dari penjelmaan penjajah Indonesia yang menindas kami,mereka bukan orang kami (Papua) lagi, tapi kehidupan mereka telah terkontaminasi dengan budaya orang kolonialis Indonesia/Barat/ Eropah.
Di lain sisi dapat di pandang bahwa mereka merupakan penjahat kebudayaan, karena setiap kegiatan atau acara/pesta mereka pakai adat sebagai budak dalam melengkapi kebutuhan jahat mereka,budaya orang Papua, secara khusus rakyat Papua selatan selalu di perkosa oleh para “Nafsu Hewani ini, hati kami semakin terbakar,hati kami seperti kebutuhan para setan – setan pengisap dara,tulang,daging, rakyat Papua selatan. Ini sebuah hegemoni bukan hal yang bisa di bayangkan oleh pikiran rakyat semata,tetapi mereka kaum terpelajar yang lahir dari kandungan ibunda rakyat itu sendiri, tetapi ternyata para ibu-ibu Papua yang ramah dan santun salah melahirkan anak-anak mereka,karena setelah mereka di lahirkan, dijaga hingga besar,mereka melihat ibunda rakyat Papua pada umumnya dan khusus ibunda rakyat Papua selatan sebagai santapan diatas ranjang,santapan surgawi kehidupan ria.
Tidak ada harapan hidup,melainkan ada harapan untuk mati tuju generasi kedepan,tidak pernah akan ada mekar dalam hidup rakyat Papua, dengan apa yang di perjuangkan oleh orang-orang Neokolonialisme Indonesia kulit hitam rambut keriting, bahkan memberikan nafas yang berlebihan sehingga rakyat tidak memiliki ruang untuk hidup, malahan memberikan kesengsaraan,kesedihan,tangisan,dan kematian, yang tak kunjung habis-habisnya. Para elit-elit tujuh suku besar juga sedang berjuang untuk hidup sementara di bawah bingkai penjajahnya, jangan heran mereka telah bodoh 65 tahun oleh penjajahnya,gaya dan gerak hidup mereka telah lama mati terkubur oleh nasionalisme (Indonesia).
Tidak ada pemekaran saja, di Merauke sudah dikuasai oleh banyaknya “TNI-POLRI, Masyarakat pendatang, seperti, Key,Ambon,Makasar,Batak,Manado,Toraja,Jawa, dengan segalah macam bentuk penjajahan disana,di Merauke hanya terdapat Indonesia mini,Indonesia raya, tidak ada kehidupan bagi rakyat papua selatan dari tuju suku yang ada, surga kini menjadi milik bangsa hewan,bukan lagi milik yang menjadi hak diatas tanah itu”! Akan tetapi para kerakusan masih melihat hal itu sebagai sesuatu kehidupan yang pasti dan layak, apa lagi yang kurang dari mereka,semuanya lengkap dan telah di fasilitasi dengan sisa-sisa dari kotoran busuk Neokolonialisme Indonesia,di sisi lain kelompok ini merupakan barometer kematian rakyat Papua selatan.
Tidak boleh ada pemekaran propinsi, jika mau ada pemekaran,maka hitunglah berapa banyak orang Asli Papua Selatan yang sarjana diberbagai aspek,dan hitunglah berapa orang Papua Selatan yang masih Hidup,,? Jika dipaksakan, berarti pemrakarsa pemekaran Propinsi adalah seorang manusia yang “Berinsting Hewani”.