Masyarakat Adat Swapodibo Minta Konfensasi

BIAK [PAPOS] – Masyarakat adat Swapodibo minta konfensasi atas pembangunan pagar bandara Frans Kaisiefo (FK) yang direncanakan akan dibangun pada tahun 2010 ini oleh PT. Angkasa Pura.

Pernyataan ini disampaikan kepala Kampung Swapodibo, Frans Ronsumre, didampingi kepala kampung persiapan Kariendi, Simon P Ronsumbre,SE saat bincang bincang dengan Papua Pos di Swapodibo (25/4) kemarin.

Frans mengatakan, masyarakat adat Swapodibo adalah pemilik hak ulayat di sekitar Bandara Frans Kaisiefo yang terdiri dari 4 kampung, dan 1 kelurahan yakni kampung Swapodibo, Ambroben, Manswam, dan kampung persiapan Kariendi, ditambah satu kelurahan Mandala.

“Kami masyarakat Swapodibo pada intinya mendukung rencana pembangunan bandara, karena ini merupakan Salah satu aset besar pemerintah dan juga aset seluruh masyarakat terlebih lagi bagi masyarakat Swapodibo, dimana perusahaan itu adalah salah satu penyumbang PAD terbesar di Biak ini,” tegas Frans Ronsumbre yang selalu memperhatikan masyarakatnya dan selalu ikut memfasilitasi masyarakat adat Swapodibo menyampaikan aspirasinya kepada PT Angkasa Pura, dan juga terhadap Pemerintah daerah.

Disampaikannya pula, sejak adanya rencana pembangunan pagar Bandara tersebut, Masyarakat adat Swapodibo telah mengadakan pertemuan dengan PT Angkasa Pura, dan menghasilkan sebuah MoU. “ Pada Desember 2009 lalu, Masyarakat adat Swapodibo minta agar PT. Angkasa Pura mengakomodir anak anak pemilik hak ulayat agar diterima sebagai karyawan Organik di PT. Angkasa Pura, dan mereka telah menjawab itu melalui MoU yang ditandatangani bersama saat itu. Jadi tahun ini sebanyak 50 anak anak adat di sekitar bandara ini akan diterima sebagai karyawan Organik,’’ katanya.

MoU itu diakui Frans akan berlaku sampai 2 tahun kedepan, dan setelah masa MoU itu berakhir, maka akan ditinjau kembali. Dia juga mengharapkan, agar kontribusi yang selama ini telah diberikan oleh PT Angkasa Pura antara lain, sarana hibah bagi lingkungan, agar tetap berlanjut sebagaimana yang sudah berlangsung selama ini.

Pada kesempatan itu, Frans turut mengingatkan kepada seluruh

masyarakat adat Swapodibo, agar mendukung pelaksanaan pembangunan pagar bandara FK ini, mengingat tingginya resiko kecelakaan penerbangan karena Bandara ini masih bebas digunakan masyarakat sebagai jalan lintas.

Dia juga menghimbau kepada mayarakat pemilik hak ulayat, agar setiap permasalahan supaya diselesaikan sesuai koridor dan penempatannya masing masing. “Pembangunan pagar jalan saja, karena PT. angkasa Pura itu kan pengelola saja, jadi kami juga sudah sepakat dengan pemilik hak ulayat agar penyelesaian masalah hak ulayat, nanti diselesaikan pemerintah saja,” ungkapnya.

Frans mengakui, pihaknya telah menyampaikan hal tersebut kepada

pemerintah daerah melalui pertemuannya dengan Assisten I dan Setda Kabupaten Biak Numfor Drs. Johanis Than MM di Ruang kerja Assisten I pada Kamis 22 April 2010 lalu.

Dalam pertemuan itu, lanjut Frans, Pemda pada intinya cukup tanggap dan sigap mengakomodir aspirasi masyarakat pemilik hak ulayat di sekitar bandara FK. “ Setda menyarankan, agar hal ini dibicarakan terlebihdahulu antara pemilik hak ulayat, dan segera sampaikan secara tertulis kepada Pemda, agar dapat bicarakan lebih lanjut. Jadi, kami sekarang sedang menyiapkan rincian kami secara tertulis tentang hak ulayat di sepanjang pagar yang akan di bangun 1250 itu,” tukasnya.

Pembangunan pagar sepanjang 1250 meter disebelah Utara Bandara ini, menurut Plt.GM. Bandara FK Biak, Nico Than,S.Sos telah dianggarkan sebanyak Rp.1,8 Milyar, dan di targetkan akan rampung pada tahun 2010 ini. [cr-54]

Ditulis oleh Cr-54/Papos   
Senin, 26 April 2010 00:00

del.icio.us Tags: ,,