Tanggapan terhadap Kematian Pempimpin Orde Baru: Soeharto

Hari ini saya tanyakan kepada seorang Papua, yang sedang menonton televisi, mendengarkan dan menonton prosesi pemberangkatan mayat mantan pemimpin orde baru dari RSPP Pertamina menuju Jalan Cendana No. 08, Jakarta Pusat. Saya bertanya kepadanya, “Bagaimana perasaan Anda saat mendengar, dan menonton peristiwa yang membawa duka bagi seluruh bangsa Indonesia ini?”

Ia serta-merta menjawab, “Saya bersyukur, bahwa sang Panglima Komando Mandala, yang memimpin perebutan dan pendudukan NKRI di Papua Barat itu telah pergi.”

Saya lanjutkan, “Tetapi sesuai ajaran agama Anda, seperti dimintakan oleh Presiden SBY dan Wapres Kalla, apakah Anda merasa patut memaafkan dia?”

Jawabannya, “Ya, sebagai sesama manusia, kita tidak bisa tidak mau memaafkan, itu keharusan, tidak ada satupun manusia bisa menolak memaafkan manusia lain yang telah tiada. Tetapi itu bukan berarti kita lalu sama sekalli melupakan kesalahan dan dosanya terhadap sebuah bangsa, sebuah tanah-air. Dalam hal ini bangsa Indonesia dan bangsa Papua, NKRI dan Negara Papua Barat belum mati, maka apa saja yang diperbuatnya atas nama kedua bangsa dan kedua negara ini tidak bisa dilupakan begitu saja.”

Lalu, saya mengandai-andai, kalau seandainya Anda menjadi seorang yang berpengaruh atau penting di kawasan Pasifik atau Asia Tenggara, “Bisakan Anda menyerukan agar bangsa-bangsa di dunia mengampuni dia, sebagai seorang manusia?”

Jawaban, “Beliau sebagai seseorang memang dimaafkan, tetapi tidak bisa dikaitkan dengan bangsa dan negara. Ia melakukan itu sebagai seorang pemimpin dari negara yang bernama Indonesia. Jadi kesalahan Soeharto sebagai Kepala dari Negara Indonesia tidak bisa lantas dihapus pergi bersamanya. Negara Indonesia tetap harus dituntut, itu baru negara hukum, negara demokratis dan peradaban yang manusiawi. Kita tidak bisa menghapus kesalahan atas nama publik dengan kematian seorang individu.”

  • Bagaimana pendapat Anda?
  • Atau apa tanggapan Anda terhadap wawancara singkat ini?

Silahkan berkomentar.