Soeharto di Mata orang Papua
Mendahului berbagai artikel yang akan ditulis tentang Alm. Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto, yang telah wafat pada Hari Minggu, 27 Januari 2007, tepat pukul 13:10 WIB di RSPP Jakarta Selatan, maka kami merasa perlu menyampaikan beberapa topik pandangan orang Papua terhadap beliau.
Kalau seandainya seorang Jawa atau Indonesia bertanya kepada seorang Papua, “Menurut Anda, siapa atau apa Soeharto itu?”, maka orang Papua akan memberikan jawab antara lain:
- Dia petinggi militer yang kejam, tak berperi-kemanusiaan;
- Soeharto seorang yang sudah tidak punya hatinraninya, manusia yang sudah dibutakan oleh ketamakan atas tanah dan bangsa lain demi kepentingan Pulau dan orang Jawa;
- Soeharto adalah pembunuh ayah, ibu, adik, kaka, paman, kerabat, bangsa saya;
- Beliau seorang yang sukses meredam aspirasi menyuarakan kebenaran;
- Dia Raja orang Jawa;
- Dia secara pribadi manusia bertanggungjawab atas kematian Papua sebagai sebuah bangsa dan perusakan alam di Bumi Cenderawasih.
Pertanyaan untuk diskusi adalah:
- Bagaimana pendapat masing-masing suku-bangsa di Indonesia?
- Apa tanggapan Anda terhadap tanggapan seorang Papua di atas?
Berikanlah tanggapan Anda di bilik Komentar.
Koteka Webmaster



Menurut saya, Soeharto adalah simbol orang Jawa, ia Presiden dan Raja Jawa yang menguasai Sumatra, Borneo, Sulawesi, Bali, Maluku sampai Papua Barat, simbol betapa manis-manisnya orang Jawa, senyum-senymnya orang Jawa, pada dasarnya senyum dan manis itu adalah senyum dan manis kejahatan, hati yang penuh dengan dendam dan ketamakan, tangan yang penuh dengan lumuran darah sesama, hanya gara-gara negara-bangsa Indonesia yang mereka dewakan bakalan membawa kehidupan adil dan makmur, yang terbukti jelas sebuah kesalahan fatal.
papuapost
Januari 27, 2008
KALAU ANDA MEWAWANCARI SESEORANG DARI PIHAK YG TERTINDAS, OTOMATIS KOMENTAR DAN PENDAPAT YG KELUAR ADALAH MENYUDUTKAN BPK SOEHARTO, TAPI COBA WAWANCARAI JUGA SESEORANG DARI DAERAH YG TELAH MERASAKAN MANFAAT PEMBANGUNAN YG TELAH DI JALANKAN BPK SOEHARTO, TENTU JAWABAN MEREKA AKAN MENDUKUNG DAN MEMUJI BELIAU.SAYA SECARA PRIBADI LEBIH SANGAT KASIHAN KPD BELIAU.
SIFAT MANUSIA PADA UMUM NYA HANYA MELIHAT KESALAHAN ORANG LAIN, DAN KABAIKAN DAN JASA- JASA PADA UMUMNYA SELALU TERLUPAKAN, BEGITULAH SIFAT MANUSIA…
KEMBALI PADA HAKIKATNYA, TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA, TIDAK ADA YG LUPUT DARI DOSA DAN KHILAF.
MEMIMPIN BUKAN SEBUAH TUGAS YG MUDAH, APALAGI MEMULAI DARI SEBUAH WILAYAH YG BELUM MEMPUNYAI KEDAULATAN.DAN PAK HARTO TELAH BERHASIL MEMBERIKAN SEBUAH KEHORMATAN BAGI BANGSA KITA.
BILA HUJAN TURUN, BELUM TENTU DISENANGI OLEH SEMUA ORANG, ADA YG MENGELUH KARENA JEMURAN NYA TIDAK KERING, ADA YG SENANG KARENA SAWAHNYA TELAH BERAIR KEMBALI.
SEHARUSNYA KITA BISA MENERIMA APAPUN KEADAAN ITU DENGAN IKHLAS DAN LAPANG DADA, KARENA ITU SEMUA SUDAH TAKDIR DARI YG DIATAS.
BEGITU JUGA DGN PAK HARTO , APAPUN TINDAKAN BELIAU ADA YG PRO DAN KONTRA, TAPI KITA HARUS BISA MENILAI SECARA OBJEKTIV.
RIA
Januari 29, 2008
Terimakasih atas komentar Ria, yang secara prinsipil benar-benar betul. Ada dua sisi yang harus diliha: pertama sisi kemanusiaan, dan kedua dari sisi perilaku kemanusiaan itu. Memang semua orang punya salah dan benar, ada hujan dan ada kemarau, tetapi itu tidak berarti jemuran pakaian itu tidak bisa kering gara-gara hujan, karena ada akal manusia untuk menjemurnya dengan cara lain. Demikian pula, di musim kemarau juga bisa ada pengairan untuk mengairi sawah-ladang. Kalau kehujanan, maka manusia sepatutnya menghitung waktu panen dan waktu menuai secara tepat. Manusia sepatutnya bisa membaca bahasa alam, karena manusia itu sendiri adalah makhluk alam dan bagian dari alam. Tetapi oleh karena dibutakan oleh kebutuhan ekonomi, maka suara hatinurani alamiah dimatikan, akhirnya suara alamiah mati.
Demikian juga dengan Pak Harto, beliau adalah manusia, dan memiliki kelemahan dan kelebihan, tetapi masalahnya apakah kemanusiaan Almarhum itu benar-benar manusiawi? Apakah kesalahan yang ia lakukan itu karena lalai, khilaf, atau karena tak sanggup menghentikan hujan mengguyur sawahnya, karena tak sanggup mengairi sawahnya? Ataukah karena ia sebagai manusia berikhtiat dan memaksakan kehendaknya kepada manusia-manusia dan bangsa lain sehingga menyebabkan hujan dan kemarau bagi sawah-dan-landang suku-bangsa lain di Indonesia?
Semua manusia yang pernah dilahirkan mau tak mau harus mati. Tetapi tidaklah manusiawi kalau kematian orang manusia lain itu dipaksakan dan dikomando oleh orang manusia lain, karena kita tidak diberi hak untuk mencabut nyawa orang manusia lain, entah dengan alasan apapun.
DILIHAT DARI SISI POSITIVE: Memang betul, ada banyak orang Indonesia yang merasakan betapa tenang, damai, aman dan tenteram kehidupan ini sewaktu beliau berkuasa. Tetapi saat orang Papua keluar ke konteks NKRI, kita perlu melihatnya dalam konteks dunia pula, yaitu kenyataan bahwa ternyata kenyamanan, ketenteraman, kedamaian, dan ketengan itu bukan karena dan atas dasar kemampuan orang Indonesia sendiri, sebagaimana seharusnya, seperti kampanye Berdiri atas kaki sendiri (berdikari) oleh Soekarno. Berdikari artinya tidak punya hutang melebihi hutang-hutang negara lain, sampai-sampai NKRI ini dalam waktu raktusan tahun-pun tak akan pernah melunasi hutang.
Jadi, segala yang baik atas dasar berutang kepada orang lain sepantasnya tidak menjadi pujian.
KESIMPULAN SEMENTARA:
Baik dalam konteks NKRI maupun dalam konteks Papua Barat, apa yang telah terjadi, secara manusiawi, adalah hal-hal yang tidak wajar, tidak manusiawi, tidak seharusnya terjadi: Pelanggaran HAM di sana-sini, dan menggali lubang lalu menutup lubang dengan menggali lubang baru, berhutang sana-sini. Bagaimana bisa dikatakan sebuah keluarga itu tenteram dan lebih baik, seoarng ayah panutan kalau sang ayah bekerja setiap saat gali lubang tutup lubang? Lalu meninggalkan galian-galian itu buat anak-cucunya cari akal menutupnya? Apakah ini manusiawi?
papuapost
Januari 30, 2008
walaupun suharto orang jawa tapi kan g semua orang jawa yang kejam dan jahat seperti itu.dan dia bukan raja jawa karena yang saya tau raja jawa itu bertugas sebagai pengayom rakyat.
nourou
Maret 24, 2009